menyibak misteri tarot
Menyibak Misteri Tarot
oleh Saesario Indrawan
masrio2001@yahoo.co.uk
mjbookmaker by:
http://jowo.jw.lt
Pendahuluan
Seringkali Tarot diasosiasikan dengan ilmu yang berangkat dari faham klenik, yang tidak
memiliki alasan logis maupun saintifik sama sekali. Namun, kebalikan dari pendapat tersebut,
diyakini justru Tarot memiliki hubungan yang cukup dekat dengan logika dan ilmu
pengetahuan modern.
Dalam tulisan ini akan disajikan penelaahan singkat terhadap kartu kartu Tarot dengan
pendekatan logika dan sudut pandang yang berbeda, sehingga diharapkan Tarot tidak lagi
dilihat dengan sebelah mata sebagai “the Devil’s picture book” dan dapat diterima dalam
khalayak ramai tanpa adanya perasaan was was dan takut akibat stigma kelam yang selama
ini melekat pada kartu Tarot.
Sejarah Tarot
Tidak lengkap telaah terhadap Tarot, tanpa lebih dulu mempelajari sejarahnya. Tarot
memiliki sejarah yang sangat panjang. Konon Tarot sudah digunakan sejak Mesir Kuno, dimana
kata Tarot sendiri diyakini sebagai bentukan dari kata “Tar” yang artinya “Bangsawan” dan
“Ro” yang artinya “Jalan”, jadi apakah sebenarnya “Jalan Bangsawan” ini? Jalan Bangsawan
adalah sebuah petunjuk untuk mencapai kehidupan yang lebih baik atau bahkan mencapai
suatu pencerahan.
1 Disajikan dalam Sarasehan Tarot di Yogyakarta, tanggal 18 Maret 2007.
2 Saesario Indrawan atau yang sering dipanggil Mas Rio, dilahirkan di Semarang, adalah seorang sarjana teknik sipil.
Ia menyukai dunia ramal sejak SMU dan mulai mengasah bakatnya dengan Tarot sejak tahun 2002. Sejak dua tahun
lalu bergabung dalam wadah Shaktimata Holistic Community, sebuah komunitas berisi pecinta dunia spiritual.
Sekarang Mas Rio bekerja sebagai site engineer pada sebuah perusahaan konstruksi nasional. Diluar kesibukan kantor,
aktif melakukan pewacanaan Tarot.
Menyibak Misteri Tarot 1
“The best way to predict the future is to invent it”
Alan Kay
Hal ini bermula pada tahun 1781, ketika Antoine Court de Gébelin, seorang mistikus
Swiss sekaligus seorang anggota Freemason, menegaskan dalam bukunya Le Monde Primitif,
bahwa simbol simbol yang terdapat dalam Tarot de Marseille merupakan representasi dari
ajaran Isis dan Toth. Ia jugalah yang menambahkan huruf Ibrani Kuno ke dalam 22 kartu
Mayor Arcana. Ternyata terbukti bahwa keyakinan Gébelin keliru setelah Champollion berhasil
menemukan cara membaca huruf Mesir Kuno (hieroglyph). Kemudian, sampai detik ini para
peneliti tentang Mesir Kuno tidak pernah menemukan kata Tar dan Ro dalam bahasa Mesir
Kuno seperti apa yang pernah diklaim oleh Gébelin. Tetapi, pada saat Champollion berhasil
memecahkan kode kode hieroglyph itu, The Book of Toth, sebuah buku yang menjelaskan
tentang mistik Mesir Kuno sudah telanjur beredar dengan luas dan dipercaya oleh masyarakat
umum.
Sebagian pewacana Tarot, bahkan yakin bahwa kata Tarot berasal dari bahasa Arab
“Turuq”, yang kemudian membentuk kata “Tareqat”, yang berarti “jalan”. Konon hal ini
didasarkan pada sebuah manuskrip yang ditemukan di dekat kota Fez di Maroko. Manuskrip ini
berisi simbol simbol yang membentuk suatu pelajaran mengenai hakekat hidup manusia, yang
diajarkan oleh para pengikut mistik dan Sufisme di Timur Tengah. Kemudian, akibat
perdagangan yang pesat antara Turki dan Mediterania, Eropa mengenal adat istiadat baru
dalam mengisi waktu luang, yaitu dengan bermain kartu. Kartu permainan yang tertua saat ini
tersimpan di Museum Topkapi, di Istanbul, Turki yang dinamakan “Mulûk wa-Nuwwâb” yang
berarti Raja dan Para Deputinya. Kartu ini terdiri atas 4 jenis, masing - masing 10 kartu berseri
dan 4 kartu bergambar, sehingga jumlah keseluruhan adalah 56 kartu. Pada Tarot, jelas bahwa
jumlah kartu Arkana Minor adalah 56 kartu.
Tarot pertama kali muncul dalam format yang mendekati seperti sekarang ini di Italia.
Pada abat ke-XV yaitu tepatnya pada tahun 1410 – 1430, muncullah apa yang dikenal dengan
“carte da trionfi” atau kartu kejayaan, yaitu ketika kartu kartu bergambar ditambahkan ke
dalam dek kartu dengan empat seri (kartu remi). Sebuah bukti literatur tentang adanya “carte
da trionfi” ini adalah keterangan tertulis dari sebuah catatan di kota Ferrara, tahun 1442.
Sementara, kartu Tarot tertua yang pernah ditemukan adalah 15 kartu yang dibuat pada abad
ke-XV untuk keluarga Visconti-Sforza, penguasa Milan pada saat itu. Namun, kesemuanya
belum memiliki bentuk 78 kartu yang terdiri atas 22 kartu Mayor Arcana dan 56 kartu Minor
Arcana sampai dengan munculnya kartu Sola-Busca dan puisi Boeiardo tentang tarrochi
(permainan kartu) pada akhir abad ke-XV. Kartu kejayaan pun hanya memiliki 70 kartu dalam
satu deknya. Akhirnya, Tarot dipercaya berasal dari Italia, dan namanya mengambil nama
daerah / lembah sungai Taro yang mengalir di sana.
Walaupun demikian, pada saat itu tidak ada bukti bahwa Tarot digunakan untuk
keperluan meramal, setidaknya sampai dengan abad ke-XVII - XVIII. Sebelum abad ke-XVIII,
Tarot digunakan untuk bermain kartu dan berjudi. Hal ini mengakibatkan Gereja Katolik Roma
Menyibak Misteri Tarot 2
dan beberapa penguasa wilayah melarang permainan terutama judi dengan kartu, tetapi di
beberapa wilayah Eropa, permainan kartu masih diperbolehkan dengan menggunakan kartu
Tarot tetapi tidak dengan kartu yang lain. Pada masa akhir Revolusi Perancis, Aliette atau yang
lebih dikenal sebagai Etteila mempublikasikan cara cara meramal dengan menggunakan kartu
semacam Tarot, hasil dari pemikirannya sendiri dan tidak mengikuti pakem Tarot pada abad
abad sebelumnya. Adalah Eliphas Lévi, yang pada tahun 1854 mempublikasikan bukunya
“Dogme et Rituel de la Haute Magie” atau yang dalam Bahasa Inggris lebih dikenal dengan
“Transcendental Magic”, dikenal sebagai pendiri fondasi meramal dengan kartu Tarot. Ia
menolak ide Etteila, tetapi kembali kepada pemikiran Gébelin, dengan menambahkan sistem
Kaballah (mistik Ibrani Kuno) dan empat elemen alkemi pada kartu Tarot. Buah pemikiran Lévi
disebarkan di kalangan pengguna Bahasa Inggris oleh The Hermetic Order of The Golden
Dawn, sebuah sekte yang mengkhususkan pada mistik dan spiritualisme dimana
pengajarannya mencakup Tarot, Astrology, Geomancy, dan sebagainya.
Akhirnya pada awal abad ke-XX Arthur Edward Waite mencoba merumuskan kembali
ajaran Tarot. Waite adalah seorang anggota The Hermetic Order of The Golden Dawn dari
Inggris. Ia berkolaborasi dengan Pamela Colman Smith, yang ditugaskannya menggambar
ulang kartu Tarot, sehingga di dalamnya memuat simbol simbol dan warna warna yang
memiliki arti tertentu. Waite bahkan menata ulang sebagian urutan kartu Mayor Arkana yang
pernah disusun oleh Lévi. Kartu Tarot karya Waite dan Smith, ini kemudian diterbitkan oleh
penerbit Rider, sehingga terkenal dengan nama Rider-Waite-Smith Tarot Deck, atau Rider-
Waite Deck. Karya Waite dan Smith saat ini menjadi standar dalam pembuatan kartu kartu
Tarot pada abad modern seperti Mythic Tarot yang idenya berangkat dari mitologi Yunani,
Robin Wood Tarot yang berdasar pada tradisi Paganisme, The Baseball tarot yang memuat
pemain pemain baseball terkenal, akan tetapi semua tetap tinggal dalam pakem Rider-Waite-
Smith Tarot.
Aleister Crowley, juga seorang anggota Golden Dawn, memutuskan untuk keluar dari
sekte itu kemudian menerbitkan Tarotnya sendiri yang berdasarkan The Book of Toth. The Toth
Tarot ini digambar oleh Lady Frieda Harris dari hasil instruksi Crowley. The Toth Tarot dianggap
memiliki kekuatan esoteris dan tidak banyak digunakan oleh pewacana Tarot, kecuali yang
meyakini isi The Book of Toth. Tarot esoteris lainnya adalah The Golden Dawn Tarot.
Indonesia juga telah memiliki Tarotnya sendiri, yaitu Tarot Wayang buah karya Ani
Sekarningsih, CTGM. Ia adalah orang Indonesia pertama yang mendapatkan pengakuan
sebagai Grand Master Tarot oleh American Tarot Association. Kendati menggunakan gambar
wayang kulit sebagai ilustrasi tarotnya, namun urutan dan pakem kata kuncinya sedikit banyak
masih dipengaruhi oleh RWS Tarot.
Menyibak Misteri Tarot 3
Meskipun tidak ada fakta otentik yang menyatakan Tarot berasal dari Mesir Kuno,
banyak pewacana yang meyakininya. Mereka juga memercayai bahwa Tarot dalam
perkembangannya masuk ke jazirah Arab (Maroko), dan terus ke India, sampai akhirnya
dikembangkan oleh bangsawan Eropa akibat dari penaklukan Islam atas Eropa. Mereka yang
meyakini hal ini umumnya berpendapat bahwa ajaran Tarot amatlah dirahasiakan pada waktu
itu sehingga tidak akan ada bukti ataupun fakta tertulis yang dapat tercatat. Ada hal yang
menarik bahwa menurut sahibul hikayat, kata “Gypsy” yaitu suku petualang nomaden di
sekitar Eropa merupakan distorsi dari kata “Egyptian” alias orang orang Mesir. Benar tidaknya
hal ini, belum diketahui dengan pasti.
Cara Kerja Tarot
Banyak pewacana Tarot berkeyakinan bahwa Tarot adalah representasi dari alam taksadar
kolektif (collective unconscious) dan dengan menggunakan Tarot maka seseorang dapat
terkoneksi dengan alam tersebut untuk mendapatkan informasi informasi yang selama ini tidak
diketahuinya. Boleh jadi pendapat ini benar, namun adanya alam tak-sadar kolektif ini toh
masih menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli terutama psikologi. Hal ini disebabkan oleh
Carl Jung, yang menggagas ide tentang collective unconscious lebih banyak menekankan
pembuktian secara empiris dan tidak dengan metode saintifik. Tentunya hal ini banyak
mendapatkan tentangan dari publik Barat yang selalu menekankan pada logika dan
berorientasi pada sains.
Jung mengidentifikasi tokoh tokoh atau simbol simbol dalam Tarot ke dalam archetype
yang mungkin dapat diistilahkan sebagai persona dalam diri seorang manusia. Jung percaya
bahwa manusia dapat mengenali collective unsconcious ini pada seluruh aspek kehidupan
melalui mimpi, seni, religi, dan melalui peranan simbol simbol pada setiap hubungan antar
manusia dalam memenuhi hidupnya. Lebih lanjut, Jung beranggapan bahwa untuk dapat
mengenali collective unsconscious ini dan membuka kesadaran seseorang akan dunia yang
lebih luas, maka bahasa simbol wajib untuk dipelajari. Hanya melalui perhatian dan
keterbukaan pikiran akan dunia ini, maka manusia mampu bergerak harmonis dengan
kekuatan alam yang ada di luar batas kemampuan manusia. Sebuah konsep yang asing bagi
pemikir Barat. Tarot yang hadir melalui simbol simbol merupakan sarana yang tepat menurut
Jung, untuk menyingkap archetype apa yang terkubur dalam relung jiwa seseorang, dengan
demikian seseorang tersebut dapat menemu-kenali diri yang sebenarnya sehingga dapat
berfungsi dan berinteraksi dengan lebih baik lagi. Tak salah kiranya bila dikenal pendapat
bahwa Tarot merupakan gambaran peta jiwa manusia.
Konsep Psikologi Jungian yang mencakup unsconscious, archetype, dan sebagainya,
tidak mudah untuk dipahami secara gamblang karena jiwa manusia masih merupakan sesuatu
yang abstrak. Sebuah pendekatan matematis dapat digunakan sebagai analog untuk
Menyibak Misteri Tarot 4
memahami Tarot. Kita semua tahu adalah sangat sulit untuk mengetahui sebab musabab
suatu kejadian dengan pasti, apalagi untuk mengetahui kejadian di masa yang akan datang.
Perhatikan pertanyaan pertanyaan berikut ini :
1. Apakah nanti malam akan datang hujan?
2. Apakah pesawat yang saya tumpangi akan jatuh?
3. Apakah tahun depan saya akan naik pangkat?
Semua jawaban atas pertanyaan di atas adalah sesuatu yang belum pasti. Namun, kita
dapat melihat fakta fakta untuk menuju pada suatu derajat kepastian tertentu. Bila langit
mendung dan menghitam, maka ada derajat kepastian tertentu bahwa malam nanti hujan
akan turun. Bila anda mendengar bunyi bunyian aneh dan asap mengepul dari mesin pesawat,
maka boleh jadi akan terjadi kecelakaan. Bila akhir akhir ini atasan sangat muak melihat
wajah anda, maka ada kemungkinan anda tidak akan naik pangkat tahun depan.
Derajat kepastian tersebut dikenal dengan konsep probabilitas atau peluang. Konsep ini
membutuhkan pengamatan yang jeli dan kontinu sehingga diperoleh fakta fakta secara
empiris. Tarot, sudah muncul sejak abad ke XVII untuk meramal. Setiap arti kartu diamati
faktanya secara empiris, kemudian dituangkan dalam suatu kata kunci. Mari kita lihat
penjelasan dan tabel di bawah ini sebagai gambaran.
Pewacanaan
ke
Kartu yang Muncul
Nasib Penanya / Klien
Mati dalam waktu dekat/ kena
musibah
Tidak mati dalam waktu dekat /
tidak kena musibah
1
2
3
.
.
.
1000
XIII. THE DEATH
YA
YA
YA
YA
YA
YA
YA
HASIL 20 980
Pada awal munculnya kartu Tarot untuk meramal, kartu XIII yaitu Death, sering diartikan
sebagai kematian secara fisik. Artinya, bila muncul kartu ini maka sebentar lagi si penanya
akan segera mati. Namun dari pengamatan para pewacana, kemunculan kartu Death tidak
selamanya berarti mati. Walaupun jelas tiap orang pasti mati, namun kematian ini tidak
sedekat dan sedramatis seperti yang tergambar dalam kartu Death. Ternyata dari, misalnya,
1000 pewacanaan hanya 20 orang meninggal dengan segera setelah kartu Death muncul
dalam pewacanaannya sementara 980 sisanya sehat wal afiat. Lama kelamaan dari hasil
pengamatan ini muncul konsensus secara tidak langsung bahwa ternyata kartu XIII Death
tidak berarti kematian, namun lebih cenderung bergantinya satu tahapan kehidupan menuju
tahapan kehidupan yang lain. Misalnya dari pengayuh becak, beralih profesi menjadi penjual
bakso dimana ia tidak akan kembali lagi mengayuh becak.
Menyibak Misteri Tarot 5
Sudah lebih dari 300 tahun Tarot dimainkan, dan dengan demikian konsep kata
kuncinya pun semakin matang dan teruji. Pengamatan secara berkesinambungan
menghasilkan kata kata kunci baru yang berbeda dengan konsep pada awal mulanya. Kartu 0 -
The Fool, misalnya, pada kartu Ercole d’Este (1475) menggambarkan orang dengan
keterbelakangan mental tetapi memiliki nafsu cabul yang luar biasa, identik dengan orang gila.
Namun seabad kemudian The Fool menjelma menjadi Pelawak Kerajaan (Deck tanpa nama
ditemukan di Paris, 1600) tetapi saat ini kartu The Fool dipahami sebagai masa transisi,
petualangan baru, awal mula yang baru, dan sebagainya yang digambarkan sebagai seorang
pemuda yang tengah bertualang, dengan ditemani seekor anjing (Rider Waite, 1909), The
Golden Dawn Tarot oleh Robert Wang malah menggambarkan The Fool sebagai seorang bayi.
Sebagian pewacana Tarot akhirnya memahami bahwa Tarot adalah permainan probabilitas,
yang telah dimainkan bertahun tahun dan memiliki rekaman perjalanan yang cukup lengkap.
7 Mitos Seputar Tarot
Di bawah ini dituliskan beberapa mitos tentang kartu kartu Tarot, diantaranya adalah
bohong belaka sementara beberapa lagi memiliki konsep yang benar namun menyimpang
dengan berjalannya waktu.
1. Kartu Tarot memiliki “isi” atau “energi”
Ini adalah termasuk gosip yang tidak benar! Kartu Tarot tidak berisi energi
apalagi yang bersifat gaib. Sang pewacana-lah yang memiliki energi, dalam arti
pewacana harus memiliki keyakinan dan gairah dalam bertarot sehingga ia mampu
menghasilkan pewacanaan yang baik dan akurat. Tarot hanyalah memiliki energi
potensial, yaitu Tarot baru berfungsi dengan baik sampai ada yang menggunakannya,
bila tidak digunakan maka tarot hanyalah setumpuk kartu bergambar.
2. Kartu Tarot tidak boleh dibeli
Kartu Tarot tidak boleh dibeli, bahkan konon bila kita diberi setumpuk kartu
Tarot, maka hal itu akan membawa kesialan. Hal ini jelas tidak benar. Kita tidak
mungkin duduk diam dan sekonyong konyong muncul kartu Tarot di hadapan kita. Isu
ini muncul akibat ulah peramal pada masa lalu yang takut usahanya gulung tikar
karena muncul peramal peramal baru.
3. Belajar Tarot harus menggunakan laku tertentu
Meditasi memang terkadang diperlukan, tetapi tak lebih dari sekedar usaha
untuk menjaga agar pikiran pewacana tetap tenang, sebab proses pewacanaan akan
menjadi sulit bila pewacana memiliki banyak pikiran di luar bertarot. Usaha usaha lain
seperti puasa, kungkum, dan sebagainya jelas bukan bagian dari Tarot.
Menyibak Misteri Tarot 6
4. Tarot harus diperlakukan istimewa, dibungkus dengan kain sutra warna hitam.
Tarot tidak perlu diperlakukan sampai demikian. Cukup membungkus dan rajin
membersihkan Tarot dari debu dan menjaga agar tidak kena kotoran saat mewacana.
Tarot bukan benda magis yang membutuhkan sesajen, justru pewacana-lah yang
membutuhkan sesajen, paling tidak sepiring nasi dengan lauk pauk agar tidak
kelaparan pada saat bermain Tarot.
5. Tidur dengan menaruh Tarot di bawah bantal mampu menyerap isi Tarot.
Ini adalah mitos paling menggelikan yang berhubungan dengan Tarot. Bila hal ini
bisa dilakukan, maka patut dicoba menaruh buku pelajaran di bawah bantal bila akan
menghadapi ujian.
6. Membakar dupa / kemenyan saat menggunakan Tarot
Sekali lagi jawabannya adalah TIDAK. Dupa atau kemenyan boleh saja
digunakan selama baunya enak dan asapnya tidak mengganggu pernafasan. Bukankah
bau yang harum dapat meningkatkan semangat kita dalam bertarot? Beberapa orang
pewacana menggunakan aromaterapi sebagai ganti dupa dengan alasan baunya yang
wangi dapat membuat mereka merasa relaks dan santai dalam bermain Tarot.
7. Tarot dapat menunjukkan masa depan
Keyakinan ini tidak seluruhnya benar. Di dalam bermain Tarot, yang penting
adalah mengetahui usaha ataupun proses untuk meraih masa depan itu, dan bukannya
masa depan itu sendiri. Adalah berbahaya bila kita “mengetahui” masa depan, tetapi
tidak tahu bagaimana cara meraihnya. Kemungkinan seseorang untuk lulus ujian akan
semakin besar bila ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, kelulusan
tidak akan datang dengan sendirinya tanpa usaha dan demikian pula dengan masa
depan yang cerah.
Jelas kiranya bahwa mitos mitos yang tentang Tarot inilah yang selama ini menghambat
kemajuan Tarot untuk berkembang. Dengan mengetahui teknik, cara kerja, dan konsep Tarot
maka makin nyata bahwa Tarot bukanlah klenik yang selama ini ditakutkan oleh orang orang.
Kesimpulan
Dapat ditarik kesimpulan dari uraian singkat di atas bahwa Tarot bukan sekedar
permainan berdasarkan klenik. Ada pengamatan dan percobaan secara empiris selama ratusan
tahun untuk membentuk konsep kata kunci dan makna Tarot menjadi semakin akurat. Dengan
demikian jelas pula bahwa Tarot tidak berhubungan dengan dunia gaib dan sebangsanya.
Fungsi Tarot akan semakin baik bila dilakukan pewacanaan yang berhubungan dengan proses
atau perjalanan menuju masa depan yang lebih baik. Bila bermain Tarot dilakukan dengan
Menyibak Misteri Tarot 7
semestinya dan dengan pikiran terbuka serta penuh tanggung jawab, maka akan membawa
manfaat baik langsung maupun tidak langsung kepada pewacana maupun klien.
Referensi
Geren, Nancy. Tarot Made Easy, Fireside, New York, 2004
Gray, Eden. Mastering the Tarot, Signet, New York, 1971
Payne-Towler, Christine, An Essay to the Major Arcana,
Payne-Towler, Christine, Overview of Tarot History,
Sekarningsih, Ani, Bunga Rampai Wacana Tarot, Grasindo, Jakarta, 2001
Sekarningsih, Ani, Panduan Tarot Wayang,Grasindo, Jakarta, 2001
An Introduction to Playing Cards, Http://www.geocities.com/a_pollett/cards.htm
History of Tarot, www.tarotpedia.com
Tarot, www.wikipedia.com
Menyibak Misteri Tarot 8
mjbookmaker by:
http://jowo.jw.lt